Senin, 09 Februari 2009

Aku Sakit! Huhuhu...

Assalamu’alaikum, kawan!

Hari ini aku mau berbagi cerita tentang kisahku kali ini yang lagi enggak masuk sekolah karena sakit. Yap, SAKIT! Sebuah sakit yang menyakitkan (apaan sih?) bernama MAAG! Hiyaaaa... Tidaaakk... Aku sekaraaatt...*lebai mode : ON*

Jadi, dengan keabsenanku untuk kedua kali ini, aku sukses melewatkan presentasi agama, ulangan sosiologi, praktikum kimia*NOOO!*, materi baru tentang pagelaran seni, pertemuan anak-anak RTM (Rumah Tangga Mushalla, salah satu divisi ROHIS 1 Depok) plus kewajibanku akan setoran surat Ar-Rahman, pertemuan SC Astronomi, les Primagama, dan mungkin, melewatkan rapat pertama panitia pensi kelas X. Haduh!

Selasa memang hari yang pendek dalam hal pelajaran di sekolah karena di hari ini, cuma ada 4 pelajaran dan pulangnya pun jam 13.00. Tapi karena pulangnya jam 13.00 itulah banyak kegiatan ekskul atau keorganisasian lainnya yang dilaksanakan di Hari Selasa sepulang sekolah. Dan pastinya, aku rugi udah enggak masuk hari ini.

Untungnya, aku absen enggak sendirian. Sepengetahuanku, Reini sama Widya juga sakit. Jadi, kalau harus ikut ulangan sosiologi susulan atau praktikum kimia susulan bareng kelas lain, aku ada temennya. Enak juga sakit berjamaah begini! :D

Yeah, musim hujan begini emang musim sakit. Baik sakit yang berkaitan dengan musim (ex : pilek, batuk, demam, dsb) atau sakit yang enggak punya hubungan apa-apa sama musim (ex : maag, depresi, frustrasi. Hehe... Itu sih penyakitku!), semoga para guru bisa maklum dan memaafkan keabsenanku kali ini...

Namun amat sangat disayangkan karena, meskipun hari ini aku bisa seharian mendem di rumah, tapi ada 2 hal yang harus diingat dengan jelas : ULANGAN BAHASA JEPANG + ULANGAN TIK BESOK! Heuh, bukannya tidur seharian non-stop, tapi aku tetap harus belajar karena sekarang keadaanku udah jauh lebih baik daripada waktu subuh tadi, terus otakku juga udah bisa diajak mikir, dan besok Insya Allah aku juga udah bisa sekolah. So, mau enggak mau, otakku kali ini harus ngunyah dua pelajaran buat ulangan besok!

Tapi dibalik semua penderitaanku ini, ada berita gembira dari Reini yang bikin aku enggak sabar masuk sekolah lagi besok. Jaket ROHIS udah jadi! Yippie! Horee! Sipirilli! *??*

Hua, mau cepet-cepet make terus pamer ke adek-adek sambil bilang, “Nih, Dek! Caca dapet jaket ROHIS. Makanya, nanti kamu ikut ROHIS pas SMA ya... Biar dapet jaket!” dengan harapan kalau adek-adekku bakal mau mengikuti jejak kakak perempuan mereka satu-satunya untuk bergabung dengan ROHIS dengan iming-iming jaket.

Dan juga pamer ke Mama dan Papa, “Mah, Pah. Aku udah dapet jaket ROHIS. Keren kan?” dengan harapan Mama dan Papa akan bangga dengan anak sulung mereka yang aktif dalam organisasi keislaman dan terlihat keren dalam balutan jaket ROHISnya. Dan bilang ke Oma, “Oma, nih lihat jaketku! Bagus, kan?” dengan harapan Oma akan ikut tersenyum senang melihat cucu kesayangannya yang berseri-seri bahagia.

Oke, kalian enggak berpikir kalau aku senorak itu kan? Hahaha... Tapi yang jelas, aku enggak sabar buat make jaket ROHIS, biar kelihatan identitasnya gitu. ;3

Fuh, kurasa cuap-cuap enggak jelas ini harus berakhir sekarang. Aku mau tidur lagi sebentar, mumpung di rumah. Hehehe...

Minggu, 08 Februari 2009

Sebuah Renungan untuk Kebahagiaan

Assalamu’alaikum, kawan!!

Berpegang teguhlah pada apa yang telah Allah berikan kepadamu dan jadikanlah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. (QS Al-A’raaf [7]: 144)

Lihat ayat di atas kan? Nah, kali ini aku mau membagi cerita yang kudapat dari buku “La Tahzan for Teens” yang ditulis oleh Qomaruzzaman Awwab (yang diadopsi dari buku ‘Mr. Positive versus Mr. Negative karya Praveen Verma). Kisah ini bagus untuk dijadikan renungan untuk orang-orang yang jarang bersyukur akan nikmat Tuhan (kayak aku! ;D) dan merasa tidak berbahagia dengan hidupnya. Cerita ini untuk semua agama, lho!

So, here’s the story...

Konon ada seorang pemuda yang bermimpi bertemu dengan malaikat. Saat itu dia mengajukan satu keinginan, “Aku ingin tinggal dalam sebuah rumah besar dengan sebuah serambi di depan, dua peliharaan yang bagus, dan sebuah taman di halaman belakang. Aku ingin menikahi seorang wanita yang tinggi, sangat cantik dan baik hati, dan berambut hitam panjang, bermata biru, yang bisa bermain gitar dan bernyanyi dengan suara bening dan tinggi.

Aku juga ingin tiga anak lelaki yang kuat sebagai teman bermain sepak bola. ketika mereka tumbuh dewasa, yang satu akan menjadi ilmuwan besar, satu lagi menjadi senator, dan yang paling muda menjadi penyerang belakang. Aku ingin menjadi petualang di samudra luas, mendaki gunung-gunung tinggi dan menyelmatkan orang. Dan aku ingin mengendarai Ferrari merah dan tidak pernah harus menyupir sendiri.”

Malaikat menjawab, “Tampaknya itu mimpi yang indah. Aku ingin kamu bahagia.”

Suatu hari, saat bermain sepak bola, pemuda itu terluka lututnya. Tentu dia tidak bisa bertualang ke laut dan gunung-gunung. Dia pun terpaksa banting setir dan memulai bisnis pemasok farmasi. Dia manikahi seorang gadis cantik dan baik hati, tapi gadis itu pendek, bermata cokelat (tidak biru seperti yang diharapkan sang pemuda), tidak dapat bermain gitar apalagi menyanyi (tapi, bisa memasak masakan yang sangat enak).

Karena usahanya yang biasa-biasa saja, dia tinggal di kota besar di puncak gedung apartemen yang tinggi dengan pemandangan ke laut membiru dan lampu kota di bagian bawah. Dia pun memiliki anak perempuan yang lumpuh, tapi sangat cantik dan pintar memainkan musik. Dia tidak mengendarai Ferrari, walaupun sangat kecukupan.

Suatu ketika dia terbangun dari tidur dan mengingat mimpinyayang dulu. Dia pun bersedih dan mengeluh kepada seorang psikolog. Dia mengeluhkan tentang istrinya, rumahnya, dan kariernya. Dia dikenai bayaran $110 oleh sang psikolog. Karena masih ingin Ferrari, dia mendatangi seorang akuntan untuk menghitung uangnya. Akuntan itu mengenakan biaya $100. Dia pun datang ke ahli nujum untuk mengeluhkan nasib anak-anaknya. semua yang didatangi mengatakan, “Kamu sudah cukup bahagia dengan kondisimu sekarang!”

Lelaki ini tak mau mendengar, akhirnya dia jatuh sakit. Semua keluarga bersedih, kecuali psikolog, akuntan, dan ahli nujum. Pada suatu malam, dia bermimpi bertemu malaikat, “Kenapa Tuhan tidak memberikan permintaanku?”

Malaikat menjawab, “Tuhan bisa saja memberikan semuanya, tapi Tuhan ingin mengejutkanmu dengan hal-hal yang tak kau impikan. Tuhan menyangka kamu telah memperhatikan apa yang telah diberikan oleh-Nya kepadamu:seorang istri yang cantik dan baik hati, sebuah usaha yang bagus, sebuah tempat yang bagus untuk ditinggali, tiga anak yang cantik.”

“Ya.” sela lelaki itu, “Tetapi aku pikir Tuhan akan memberikan apa yang benar-benar aku inginkan.”
“Dan Tuhan pikir, kamu memberikan kepada-Nya apa yang benar-benar Dia inginkan,” jawab malaikat.
“Apa yang Tuhan inginkan dariku?” tanya lelaki itu. Dia tak menyangka bahwa Tuhan menginginkan sesuatu dari dirinya.
Malaikat menjawab, “Tuhan ingin kau bahagia dengan apa yang telah Dia berikan kepadamu.”


                                                                             ***

Yap, itulah ceritanya. Dan ada pula sebuah kutipan bagus dari buku itu yang bunyinya,“Semua orang yang sukses memiliki rumus yang sama, ‘terimalah dengan lapang dada anugerah yang diberikan meskipun belum memenuhi harapan. Terimalah tanpa merasa kekurangan.’”

Jadi kawan, banyak sekali orang di dunia ini yang memiliki kisah yang sama dengan lelaki di atas. Dia adalah orang yang cukup beruntung, walaupun ada beberapa kekurangan padanya (hei! Mana ada yang sempurna di dunia ini?). Namun masih aja merasa enggak puas akan apa yang didapatnya hanya karena apa yang telah Tuhan berikan kepadanya enggak sesuai dengan harapannya dulu.

Tapi satu hal yang perlu kita ingat, kita harus selalu mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan pada kita. Karena orang-orang yang stress dan tidak berbahagia kebanyakan adalah orang yang enggak puas dengan apa yang dimilikinya. tentu kita enggak mau jadi orang stress kan?

Oke, sekian untuk entri kali ini, semoga bermanfaat. ^^

Jumat, 06 Februari 2009

Aku dan Kenyataan : Munafikkah Aku?

Aku bangga menjadi diriku...
Nyatanya aku sering mengeluh, “Kenapa aku tidak terlahir sebagai orang lain saja?”

Aku mencintai Ibuku...
Nyatanya aku sering membentaknya karena tak menuruti keinginanku.

Aku menyayangi dan menghormati Ayahku...
Nyatanya aku sering membantah nasihat-nasihatnya.

Aku cinta keluargaku...
Nyatanya aku sering berkata, “Kenapa aku memiliki keluarga yang seperti ini?”

Aku sayang pada teman-temanku...
Nyatanya aku suka membicarakan mereka dari belakang.

Aku memakai jilbab, aku seorang muslimah...
Nyatanya aku sering melakukan hal-hal tidak cocok dengan citra muslimah.

Aku mendamba akan surga-Nya di akhirat nanti...
Nyatanya aku sering melalaikan perintah-Nya.

Aku salat 5 waktu...
Nyatanya aku tak bersungguh-sungguh menyerahkan diri dalam salatku.

Aku mengidolakan Rasulullah SAW...
Nyatanya aku tidak mencontoh perilaku mulia beliau.

Aku bertekad keras untuk menjadi anak yang pintar...
Nyatanya aku lebih suka menonton TV dibanding belajar.

Aku tahu kalau para ikhwan di sekolah bukanlah muhrimku...
Nyatanya aku sering tertawa terbahak-bahak bersama mereka, tidak menjaga pandangan dan kata-kataku.

Aku memusuhi para setan...
Nyatanya aku sering termakan rayuan mereka.

Ya Rabb, maafkan aku! Maafkan segala kemunafikan hamba-Mu! Maafkan segala kekhilafanku karena sesungguhnya aku masih belum cukup kuat untuk menjadi seorang muslimah yang kaffah. Berilah aku hidayah-Mu, jangan masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang tersesat. Kumohon... Amin.

Minggu, 01 Februari 2009

My Dear Opa Padang

Assalamu'alaikum, semua..

Hari ini benar-benar hari yang menyedihkan...

Ada kabar dari tanteku kalau Opa Padang koma pasca operasi by-pass jantungnya. Aku kaget, karena Mama bilang kalau sehari setelah operasi, Opa Padang masih baik-baik aja. Bahkan masih bisa ngobrol sama Mama. Tapi ternyata, tadi siang tanteku telepon dan dengan suara panik nyuruh Mama sama Oma buru-buru dateng ke RS karena Opa Padang udah koma dan istrinya udah nangis-nangis.

Jadilah Mama sama oma gerabak-gerubuk siap-siap berangkat ke rumah sakit karena waktu kabar itu sampai, Omaku bahkan belum mandi. Ngemasin barang-barang Opa Padang dari kamarku (sebelum masuk RS, Opa Padang sempat nginep di kamarku. Yah, kamarku emang paling suka dijadiin kamar tamu dadakan) karena Oma bilang kalau seandainya Opa Padang keadaannya lebih buruk (dengan kata lain... yeah, pokoknya hal yang lebih parah dari koma), Opa Padang bakal langsung dikirim ke Padang.

Aku enggak bisa ikut ke rumah sakit karena mobilnya enggak muat. Padahal aku mau banget ikutan jenguk Opa Padang. Mama bilang, "Evin, salat ya, do'ain Opa Padang. Mama juga enggak tega banget kalau sampai Opa Padang kenapa-kenapa. Do'ain Opa masih bisa hidup sepuluh tahun lagi..."
"Biar bisa lihat aku kawin." tambahku sambil tertawa sedih, teringat perkataan Opa dulu.

Yah, begitulah, aku cuma bisa berharap Opa Padang bisa sembuh dari komanya. Tapi aku juga hanya bisa pasrah dan ikhlas kalau Allah berkehendak lain...

Aku udah enggak punya kakek lagi semenjak umur lima tahun, makanya aku sayang banget sama Opa Padang walupun lama enggak ketemu. Datukku (kakek dari Papa) meninggal waktu aku umur tiga tahun dan Opaku (kakek dari Mama, yang katanya amat sangat sayang sama aku) meninggal waktu aku umur lima tahun. Makanya, aku suka ngiri sama anak-anak yang masih punya kakek. Tapi semua ini udah takdir dari Allah, aku harus tetap bersyukur dan berdo'a, semoga kakek-kakekku diterima di sisi Allah Swt. Dan semoga Opa Padang masih bisa lihat aku tumbuh dewasa, mewakilkan Opaku tercinta... Amin.

*Posting ini ditulis olehku sambil menahan air mata yang mau tumpah. Aku enggak bisa nangis sekarang karena aku lagi di warnet dan enggak mau disangka orang gila...*


Senin, 26 Januari 2009

Cerita di Hari Minggu

Assalamu'alaikum, semua!!

Di entri kali ini, aku mau cerita tentang pengalamanku ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Slipi. Aku kesana buat jenguk adik almarhum opaku (yang biasa aku panggil dengan sebutan 'Opa Padang' karena asalnya emang dari Padang!) yang lagi dirawat disana karena jantungnya bermasalah. Jadilah di Hari Minggu aku dipaksa Mama buat jenguk Opa Padang karena Mama bilang kalau Opa Padang sayang banget sama aku dan pasti bakalan seneng banget kalau kujenguk. Hehehe...

Berhubung Opa Padang mirip banget sama almarhum opaku, jadi aku ngelihat beliau sama seperti aku ngelihat almarhum opaku, dan rasa sayangku juga sama. Apalagi aku udah enggak ketemu beliau selama hampir 11 tahun. So, dengan senang hati aku ikut Mama, Om, sama Oma ke Harapan Kita... (BTW, tetangganya RS Jantung HarKit, yaitu RSAB HarKit adalah tempat lahirku loh! Hehehe... Gak penting!)

Singkat cerita, begitu sampai, perasaanku campur aduk. Antara ngeri dan semangat. Ngeri karena di tempat itu pastinya ada orang-orang yang berjuang melawan maut yang udah di ujung mata (ya iyalah, lawannya aja penyakit paling mematikan nomor satu di dunia!) plus semangat karena kayaknya bakalan asyik kalau udah gede nanti aku bisa kerja di rumah sakit itu. Yap, aku mau jadi dokter jantung karena aku mau banget nyembuhin orang-orang yang bernasib sama kayak Opa Padang. Aku enggak tega ngelihat orang-orang itu menderita karena organ tubuh mereka yang paling vital bermasalah.

Terus setelah nungguin jam besuk selama setengah jam, aku ketemu sama Opa Padang (yang waktu itu Alhamdulillah keadaannya masih lumayan sehat), aku langsung salaman dan memperhatikan keadaan sekitar di kamar rumah sakit itu. Opa Padang pada saat itu belum dirawat betulan alias masih di kamar registrasi. Nah, di kamar itu kurang lebih ada tujuh atau delapan pasien yang terbaring lemas di tempat tidur mereka. Beberapa pasien bahkan dipasangi alat yang kalau enggak salah namanya elektrokardiograf. Alat ukur tekanan jantung yang suka ada di film-film itu loh... (sorry kalau namanya salah! ;p)

Alhamdulillah, Opa Padang enggak dipasangi alat itu. Tapi yang bikin aku merinding, di bagian ujung dekat pintu, ada pasien bapak-bapak yang sepenglihatanku umurnya masih terbilang enggak tua, koma. Dan dibacain Yassin sama para penjenguknya. Beberapa penjenguk bahkan ada yang nangis. Aku takut ngebayangin aku yang ada di posisi Bapak itu. Dan juga kasihan, karena Bapak itu terlihat bener-bener enggak berdaya. Yang aku bingungin, kenapa Bapak itu enggak dipindahin ke kamar perawatan aja? Kenapa masih di kamar registrasi? Huf... Tapi aku berharap semoga Allah ngasih kesembuhan buat Bapak itu.

Dan di seberang tempat Opa Padang, aku lihat ada kakek-kakek yang kayaknya umurnya emang udah tua banget. Dia cuma ditemenin sama satu orang, entah cucunya, entah siapanya. Aku kasihan lagi lihat Kakek itu, meskipun keadaannya masih lebih baik dibanding Bapak di ujung pintu, tapi dia pasti kesepian. Untunglah, beberapa menit kemudian, ada yang jenguk sang Kakek.

Di samping Kakek itu, ada nenek-nenek yang terlihat lemes banget. Susah ngangkat badan buat bangun. Dan kayaknya Nenek itu komat-kamit berusaha berdzikir sama Allah. Dan enggak lama kemudian, Nenek itu tertidur. Kulihat napasnya juga agak susah. Poor Granny, Ya Allah, please bless her!

Kembali ke Opa Padang. Mamaku benar, Opa Padang seneng banget dijengukin. Dia berulang kali ngelihat aku sambil nanya, "Evin masih inget sama Opa, nggak?". Yang kujawab dengan, "Masihlah, Opa! Masa aku lupa?". Opa ketawa. Yeah, persis banget sama Almarhum Opaku. Mereka berdua emang deket dan mirip banget. Aku jadi mau nangis, enggak tega ngelihat Opa Padang yang ditusukin berbagai jenis jarum. Bahkan ujung infusnya berdarah. Ngelihat Opa Padang jadi kayak ngelihat Opaku hidup lagi...

Aku sadar, ternyata jantung kita yang masih sehat ini adalah karunia yang luar biasa yang diberikan Allah buat kita. Yang harus dijaga dengan hati-hati. Karena kalau aja jantung kita bernasib sama dengan jantung orang-orang di rumah sakit itu, aku yakin, rasanya pasti tersiksa banget. Jadi, mari kita syukuri dan jaga kesehatan jantung!!!

Satu kata dari Opa Padang yang bikin aku nyengir plus blushing :
"Opa mau lihat Evin kawin..." Nah lho!
Shikamaru, kawin yuuukk!! *disambit kipas sama Temari*
Okay, enough for today! Bye...

Rabu, 21 Januari 2009

First Note at 2009

Huaaaa!!!

Aku hampir enggak punya waktu buat ngurusin blog dikarenakan yang namanya tugas-tugas sekolah itu bikin gila!!

Oiya, di tahun 2009 ini aku ganti header blog loh, dari I love Ken Murata jadi Evinno Calypso. Hal itu menandakan kalau aku udah enggak suka sama tokoh khayalan lagi, yeah, aku udah dewasa! Hehehe...

Dan mulai sekarang namaku di cyber space bukan Puu lagi, tapi Evin. My real name. Hahaha...

BTW, tahun baru berarti juga hidup baru! Ngerti kan, maksudnya. Membuang masa lalu dan memandang masa depan. Makin sering introspeksi diri agar kesalahan-kesalahan yang kita perbuat di tahun sebelumnya enggak terulang lagi. Ya contohnya aja kesalahanku di tahun lalu, terlalu mengabaikan pelajaran, jadinya nilai akhir semester satuku hancur lebur!! Huaa, aku mau memperbaiki cara belajarku! God, help meee!!

Jadi, mari kita sama-sama belajar untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi dari tahun lalu! Meskipun mungkin hal itu agak susah dilakukan. Tapi mau gimana lagi? Masa tiap tahun enggak ada perubahan yang berarti? Intinya (mengutip dari iklan susu), berubahlah untuk maju! Yeah, pokoknya semangat buat semua orang yang sama-sama stres gara-gara nilai semester 1!! We have to struggle to face this world!

Oke, sekian untuk catatan pertamaku di tahun 2009 ini. Mungkin rada enggak jelas karena aku juga lagi enggak tahu mau nulis apa. Hehehe... ;p

Buat semua, diminta keikhlasan hatinya untuk memberikan komen di blog saya yang sepi ini... Hiks...

(Turut berduka cita atas kematian ribuan warga Palestina yang diserang oleh tentara Israel yang jelas-jelas TIDAK PUNYA MORAL!!! Semoga kalian semua bahagia di sisi Allah SWT. Amin...)